Tips Mencegah Dehidrasi Anak (Diare)

Dehidrasi adalah keadaan dimana tubuh kekurangan cairan. Salah satu penyebab tersering dehidrasi pada anak adalah diare dan muntah. Tatalaksana diare akut pada anak bertujuan mencegah dehidrasi. Dehidrasi yang berat sangat sulit diatasi karena memerlukan terapi cairan yang agresif bahkan pemasangan infus. Berikut mengenai tanda-tanda dehidrasi yang perlu dipantau oleh orang tua dirumah.

  1. Berat badan
    Anak dengan dehidrasi mengalami penurunan berat badan drastis.
  2. Perhatikan buang air kecil anak
    Sangat penting memperhatikan buang air kecil anak saat diare. Apabila tubuh kita kekurangan cairan maka produksi air seni akan berkurang. Pada saat kekurangan cairan, air seni akan lebih pekat, jumlahnya lebih sedikit bahkan tidak berkemih sama sekali. Anak anda mengalami dehidrasi jika belum berkemih lebih dari 6-8 jam
  3. Perhatikan keinginan minum anak
    Pada saat dehidrasi, rasa haus akan munculsebagai kompensasi. Tanda kehausan dapat dilihat dari usahanya yang meningkat saat minum, anak mengikutisendok atau cangkir saat dilepaskan dari mulutnya. Anak dengan dehidrasi berat akan sangat lemas bahkan sangat lemas untuk minum, dan anak tidak nampak kehausan. Kondisi tersebut perlu dibedakan dengan anak yang tidak dehidrasi
  4. Perhatikan air mata dan mulut
    Anak yang tidak dehidrasi akan memproduksi air mata saat menangis, sedangkan anak yang dehidrasi mata tetap kering saat menangis. Anak yang dehidrasi matanya lebih cekung dan mulutnya lebih kering
  5. Perhatikan kesadaran anak
    Anak dengan dehidrasi lebih lemas dan tidak bertenaga, bahkan pada dehidrasi berat anak kehilangan kesadaran dan tidak respon meski dirangsang. Jangan tunggu anak anda mengalami penurunan kesadaran, lakukan rehidrasisegera jika anak anda diare-muntah
  6. Cubitan kulit perut
    Anak dengan dehidrasi, cubitan kulit perutnya keriput dan kembalisangat lambat. Cubitan kulit tidak menjadi standar deteksi dehidrasi untuk semua anak. Pada anak yang obesitas misalnya, akibat lapisan lemak yang tebal, cubitan kulit tidak berubah meskipun anak dehidrasi. Pada anak yang terlalu kurus atau pada lanjut usia, cubitan kulit dapat kembali lambat tetapi bukan disebabkan oleh dehidrasi

Diare pada anak sangat merugikan, pertama kehilangan cairan berisiko menyebabkan dehidrasi yang dapat berujung kematian, kedua kehilangan elektolit dapat menyebabkan gangguan elektrolit dan  keseimbangan asam basa dalam tubuh, ketiga ikut hilangnya mikronutrien yang meningkatkan risiko malnutrisi. Meskipun diare pada anak pada umumnya disebabkan oleh virus dan dapat sembuh dengan sendirinya, kejadian diare pada anak memerlukan perhatian khusus agar tidak terjadi hal-hal yang telah disebutkan diatas. Bagaimanapun juga, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah diare pada anak:

  1. Berikan ASI eksklusif
    Air susu ibu unggul dalam meningkatkan daya kekebalan bayi terutama saluran cerna. Pemberian ASI eksklusif menurunkan risiko terjadinya diare pada bayi
  2. Perhatikan kebersihan susu botol
    Apabila bayi anda mengkonsumsi susu formula atau ASI perah pastikan pengurus bayi menjaga kebersihan saat menyiapkansusu untuk bayi. Seduhlah susu formula dengan air panas dengan suhu sekitar 70 derajat. Cucilah tangan sebelum dan sesudah merawat bayi, menyiapkan makan dan memberi makan bayi
  3. Perhatikan 4F (Food, Flies, Field, Feces)
    Food (makanan) : jagalah kebersihan dan kesehatan makanan
    Diet BRAT dikenal sebagai bagian dari tatalaksana diare. Anak-anak dengan diare tidak dianjurkan makanan lain selain BRAT (Banana = pisang, Rice= nasi, Applesauce = saus apel, Toast = Roti).

    • Pisang mengandung tinggi kalium dan serat yang tahan terhadap enzim amilase. Pada saat diare, tubuh banyak mengeluarkan cairan dan elektrolit terutama kalium. Kekurangan kalium sering menjadi komplikasi pada diare.
    • Nasi(kadang diberikan dalam bentuk air tajin) dan roti mengandung karbohidrat kompleks dengan daya tarik air yang rendah sehingga tidak menyebabkan tinja menjadi encer. Nasi dianggap memiliki zat antisekretorik (mencegah pengeluaran air dari usus besar).
    • Apel lebih terkenal di Negara empat musim, mengandung pectin yang dapat mengeraskan tinja.
    • Saat ini istilah BRAT diet sering ditambahkan dengan Yoghurt, menjadi BRATY diet. Yoghurt dianggap mengandung probiotik yaitu bakteri yang dapat menguntungkan saluran cerna. Bakteri ini akan berkompetisi dengan mikroorganisme pathogen (penyebab penyakit) dan mempercepat kesembuhan diare. Rasionalisasi penggunaan probiotik dapat dibaca pada artikel terpisah.

    Diet BRAT terbukti menurunkan frekuensi diare dan mengentalkan tinja, parameter ini dipakai untuk menilai kesembuhan diare tanpa memperhitungkan status dehidrasi. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tatalaksana diare saat ini tidak lagi bertujuan untuk mengurangi frekuensi diare ataupun mengentalkan tinja, tetapi untuk mencegah dehidrasi. Sejak ditelitinya mekanisme penyerapan elektrolit dan air dalam saluran cerna pada anak diare , cairan rehidrasi oral dikembangkan (sekitar tahun 1940an), dan menjadi terapi utama pada diare.
    Saat ini, tatalaksana nutrisi yang dianjurkan AAP dan WHO pada anak diare adalah “early feeding” yaitu tidak memuasakan anak, memberikan makan seperti biasa. Pembatasan makanan saat diare dan hanya memberikan BRAT saja dinilai tidak efektif karena diet BRAT memiliki kalori yang rendah. Tidak ada anjuran khusus diet pada anak diare, berikan makan seperti biasa sesuai usia.

    Flies (lalat): tutuplah makanan jika tidak siap untuk disantap supaya tidak dihinggapi lalat
    Field (tanah): jika anda suka berkebun atau bermain di taman, pastikan anda mencuci tangan dan menggunting kuku untuk menghindari tertelannya mikroorganisme penyebab diare
    Feces (tinja): buanglah air besar di jamban, cuci tangan sesudah buang air besar.

Sumber :
– Milis sehat
– BRAT diet, Emergency Medicine News
– Managing acute gastroenteritis among children, CDC
– The BRAT diet for acute diarrhea in children:should it be used? Pediatric Gastroenterology.
– Hospital care in children, WHO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

17,193 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>